Skip to Content
Aryo
Diponegoro
Mengantar Kakak Pulang
#SeriSpiritual aryodiponegoro / August 2, 2021

Selasa dini hari (27 Juli 2021), jam 00.30 aku terbangun dari tidur. Sambil kethap-kethip, bertanya dalam hati, “mengapa aku bangun jam segini?”. Padahal tidurku belum genap 2 jam. Biasanya aku bangun malam karena kebelet pipis, belum sholat isya, berniat tahajud atau bangun lebih pagi. Tapi malam itu, aku gak menemukan jawaban. Lalu aku istighfar dan kembali terlelap.

Jam 2 pagi, aku terbangun lagi. Lagi2 belum genap 2 jam sudah terbangun lagi. Mau beranjak dari tempat tidur, rasanya kok berat banget. Mau tahajud, tapi hati bicara “nanti saja menjelang subuh, skalian ama subuhan!”. Mungkin ini bisikan setan. Lalu aku istighfar lagi.

Sebelum kembali lelap, aku teringat kakakku pertama yg terbaring sakit. Sudah ginjalnya kena, jantungnya juga, minggu lalu terpapar covid. Sembari terus istighfar, aku kembali tertelap.

Menjelang subuh, aku terbangun lagi. Dan aaah benar, tadi itu bisikan syaitan, aku jadi gk tahajud. Cuma bisa lsg sholat shubuh. Selepas sholat, ak kembali ke kasur. Kali ini tidak tidur. Tapi liat2 hape, menonton youtube, membuka IG, Tiktok dan tak lupa Facebook.

Waktu menunjukkan pukul 5.45. Aku bersiap2 bekerja. Aku udah terbiasa bekerja pagi2 selepas subuh hingga pukul 10 sebelum akhirnya beredar atau terus mengejar deadline. Pas tepat pukul 6 pagi, kakak iparku yang berada di sebelah rumah menangis sejadi-jadinya. Innalilahi wa inna ilaihi raji’un, kakak pertamaku meninggal dunia.

Jujur saja ak rada ngeblank. Mau masuk rumahnya, kakakku positif covid. Akhirnya aku gunakan masker 3 lapis. Yang penting aku tidak sentuh benda2 di rumahnya. Sekedar untuk memastikan bahwa benar meninggal. Aku masuk rumah dan kamarnya. Dan benar, kakakku sudah terbujur, terdiam. Tapi masih lemas. Aku lihat istrinya masih bisa mensedakepkan kedua tangannya.

Lalu aku keluar rumah dan setauku kakak iparku punya baju apd. Aku memakainya dan kembali memasuki rumah kakak denrgan apd. Aku coba hubungi satgas covid. Berkali2 tak tersambung. Akhirnya aku minta pak RT untuk menyampaikan ke satgas covid.

Sampai akhirnya jam 7.30an, kembali menghubungi satgas covid. Di ujung sana, bu satgas menyampaikan “Pak ini udah ada beberapa yang lapor.”. Ternyata pak RT dan tetangga2 turut melapor. Alhamdulillah.

Pukul 9, dari satgas covid datang untuk memeriksa denyut nadi. Dan ya benar, sudah tidur untuk selamanya. Aku berunding dengan keluarga, keluarga meminta untuk segera dimakamkan. Berkat bantuan kakak ipar di Bandung, aku tersambung dengan MCCC Kauman (Muhammadiyah Covid Command Center). MCCC Kauman lah yang menangani jenazah.

Pukul 12.30 mereka datang mengevakuasi. Fyi jenazah covid butuh ditangani oleh orang2 yg berkompeten. Jika bukan covid, warga sudah terbiasa menangani hal2 demikian. Pukul 13an jenazah dimandikan di samping masjid Kauman. Ada ruangan khusus. Lalu setelah dikafani, dimasukkan dalam peti.

Jam 2an disholatkan di pelataran masjid Kauman. Aku, keponakan dan seluruh satgas MCCC Kauman turut mensolatkan. Selesai sholat dibawa ke pemakaman Krapyak. Sebelum ashr, jenazah sudah dimakamkan.

Aku sedih kehilangan kakak. Terlebih lagi, saat dia sakaratul maut, aku tidak sempat mendoakan. Padahal aku terbangun. Berkali kali. Hal yg tak biasa di keseharianku. Aku berterima kasih pada pak RT yg tulus membantu warganya. Juga gotong royong tetangga dengan segala keterbatasan protokol kesehatan. Berterima kasih pula untuk MCCC Kauman yg sigap menangani jenazah.

Mugi syahid dan husnul khatimah kang. Seko adimu sing melu ngeterke kowe mulih.

Terima kasih telah membaca artikel saya. Silahkan share bila bermanfaat. Sebarkan kepada orang-orang yang Anda sayangi. Anda juga dapat bergabung Channel Telegram Rapid Marketing Strategy di http://t.me/SinauMarketing dan Channel Telegram Strategi Membeli Rumah Pertama dan Investasi Properti di http://t.me/SinauProperti . Pastikan Anda terkoneksi dengan aplikasi Telegram.

Jogja, 29 Juli 2021; 13:59 WIB

Comments
No comments yet, take the initiative.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ARYO DIPONEGORO © 2021