Catatan Kecil Saya Tentang Properti Berlabel dan Tak Berlabel Syariah

Rame2 properti berlabel syariah di media online yang dicokok pak pulisi. Seperti berbalas pantun di media sosial. Satu ngeshare tentang berita properti berlabel syariah yang mangkrak. Satu lagi ngeshare berita properti non label syariah yang mangkrak. Hehehe.

Begini pendapat saya.

Properti non label syariah yang mangkrak jumlahnya pasti buanyaaak. Karena pemainnya juga banyak. Sedangkan properti berlabel syariah, yang mangkrak pasti jumlahnya sedikit karena pemainnya juga belum banyak.

Tapi ibarat baju, properti non label syariah itu baju warna abu2. Jadi kl ada noda2 hitam, tak gitu tampak. Sedangkan properti berlabel syariah, ibarat baju putih. Jadi kl ada noda2 hitam, akan tampak jelas.

Harap maklum.

Saya berbaik sangka kepada keduanya. Bahwa mungkin semuanya tidak berniat memangkrakkan diri. Tapi mungkin terjebak dalam permainan cash flow yang rumit karena target penjualan yang tak tercapai atau karena aspek lain misalnya legalitas dan perijinan yang tidak bisa dipenuhi entah karena suatu hal. Dll Dll.

Saya juga mengamati pengusung properti syariah yang bener-bener berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi syariah compliance. Termasuk dari sisi legal aspek atas propertinya, legal aspek usahanya, keamanan investasi konsumennya, akuntansinya, permainan cash flownya. Bukan sekedar akad-akad jual belinya yang syariah. Apalagi seremeh pelabelan saja.

Tapi ada juga yang melanggar syariat (baca peraturan) negara. Meski akad-akadnya sudah berprinsip syariah. Misal tidak menggunakan badan hukum untuk menjadi developer. Tidak urus ijin dulu, tapi langsung jualan. Tanah belum dipastikan dikuasai sudah jualan. Yang pada akhirnya akan dapat mengganggu jalannya usaha di kemudian hari.

Belum lagi permainan cash flow bisnis yang ini seperti contoh berikut. Tanah diikat dalam perjanjian kerjasama., Terus dipasarkan dengan harga perdana yang murah sekali (diskon besar) dengan target mendapatkan cash besar sehingga dapat untuk membayar tanah dan kewajiban-kewajiban lainnya seperti legalitas, perijinan, operasional dll. Tapi sayangnya target penjualan tidak tercapai. Duit yang sudah masuk sudah habis untuk membiayai lain-lain. Akhirnya mangkrak.

Padahal pola di atas itu ya banyak yang menggunakan. Ada yang berhasil. Banyak yang gagal. Hehehe.

Dari niat menjalankan proyek dengan baik dan benar. Kemudian terjebak dalam pusaran masalah. Terus menghindar dan menghilang. Dan akhirnya terpaksa menipu dan menggelapkan.

Semoga kita dijauhkan dari hal-hal keburukan. Aamiin!

—–

Btw, syariahnya tidak pernah salah. Hanya orang-orangnya yang salah menjalankan syariah.

Harap maklum.

Terima kasih telah membaca artikel saya. Silahkan share bila bermanfaat. Sebarkan kepada orang-orang yang Anda sayangi. Anda juga dapat bergabung Channel Telegram Rapid Marketing Strategy di http://t.me/SinauMarketing dan Channel Telegram Strategi Membeli Rumah Pertama dan Investasi Properti di http://t.me/SinauProperti . Pastikan Anda terkoneksi dengan aplikasi Telegram.

One Reply to “Catatan Kecil Saya Tentang Properti Berlabel dan Tak Berlabel Syariah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *