Syariah Sebagai Semiotika, Bukan Sekedar Label Pada Properti

Semalam saya diforward capturan status orang yang komplain tentang sebuah perusahaan properti berlabel syariah. Kebetulan salah satu proyeknya sempat dibranding bekerjasama dengan organisasi Islam. Then saya coba telusuri ada apa dengan properti label syariah yang ini. (blablabla seterusnya off the record)

Lihat videonya juga bisa

Mensikapi kasus di atas, saya teringat jaman saya kenal properti dulu tahun 2004. Guru properti saya, sebut saja MJF pingin perusahaan developernya itu bernafaskan islami. (Jaman dulu blm populer istilah properti syariah). Kemudian beliau merekrut tim yang baik, sebagian jebolan pesantren, karyawan-karyawatinya sudah terbiasa berpakaian menutup aurat. Meski demikian, nama perumahan yang dikembangkan tidak berbau nama-nama islami. Dan kami tidak pilih konsumen untuk membeli.

“Yang penting dalam diri kita islami, daripada tampak luar islami, tapi sebenarnya tidak. Karena islam itu rahmatan lil alamin. Jadi keberadaan kita juga harus bisa menjadi kebaikan bagi semua orang”, kira-kira begini nasihat guru saya tersebut.

So saya setuju dan sepakat, sesuai judul tulisan saya ini, bahwa SYARIAH itu sebagai SEMIOTIKA, bukan semata sebagai LABEL pada properti. Syukur-syukur bisa keduanya. Tapi LABEL itu lebih tepat sebagai pengakuan. Dan pengakuan terbaik adalah dari orang lain. Jadi bukan kita yang melabeli diri kita syariah, tetapi orang lain yang mengakui kalau kita syariah. Itulah BRANDING.

Tapi melabeli diri sebagai properti syariah itu juga tidak salah. NOTE!

SEMIOTIKA itu gimana sih? Gampangnya saya copas dari Wikipedia. Semiotika atau ilmu ketandaan adalah studi tentang makna keputusan. Ini termasuk studi tentang tanda-tanda dan proses tanda (semiosis), indikasi, penunjukan, kemiripan, analogi, metafora, simbolisme, makna, dan komunikasi. Nanti boleh googling sendiri dengan kata kunci “semiotika adalah”.

Jadi gini, LABEL dan SEMIOTIKA harus sejalan. Tapi menurut saya, LABEL itu urgensinya kurang. Karena ya itu tadi, orang yang akan memberi LABEL. Terus SEMIOTIKA nya gimana nih contohnya? Banyak contohnya sih misal :

  1. Nama perumahan kamu bisa menggunakan kata islami. Misal Az Zahra Residence, Al Mulk Superblok, Darussalam Townhouse. Dll. Tanpa harus kamu labeli SYARIAH, penamaan tersebut sudah identik dengan syariah.
  2. Karyawan-karyawanmu berpakain sopan dan menutup aurat baik di kantor maupun di luar kantor.
  3. Menebar senyum lebar kepada setiap orang terutama konsumen.
  4. Berkata-kata yang baik dan tidak nyinyiran.
  5. Kamu tidak perlu melabeli tanpa riba, tanpa bank, tanpa anu anu. Tapi kamu cukup bikin daftar harga tanpa melampirkan daftar harga KPR bank.
  6. Kamu dan tim kamu bekerja tidak menggunakan software bajakan, Masak iya developer properti syariah pake softwarenya bajakan. Kan lucu.
  7. Ruang kantor yang wangi, bersih dan dihiasi ornamen khas islami. Bila perlu mp3nya yang diputer adalah murothal.
  8. Shalat selalu berjamaah dengan karyawan. Bahkan bila ada konsumen di saat waktu shalat, hentikan semua kegiatan dan ajak si konsumen berjamaah.
  9. Membuat perjanjian jual beli atau kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak dan tentu berprinsip secara islami.

Dah sembilan aja contohnya, Nanti kebanyakan. Kamu boleh tambahkan di kolom komentar.

Nah terkait dengan kasus properti label syariah di atas, itu bisa terjadi kepada siapa saja. Baik yang label syariah maupun yang tidak. Bahkan yang beneran syariah bener. Bisa saja jatuh. Namanya juga bisnis, ada resiko di dalamnya.

Cuma sayang kan kalo pake label syariah trus mangkrak. Yang bisa kena, semua yang pake label syariah. Tau sendiri, tahun politik nih. Gampang panasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *