Scan Sidik Jarimu, Untuk Tahu Potensi Genetikmu

Saya sebenarnya cukup terlambat mengetahui tentang “scan sidik jari”. Pertama karena setelah turun dari panggung seminar, saya tergolong teramat jarang mengamati ilmu-ilmu baru. Karena memang saya sedang mendalami lagi ilmu tentang teknologi informasi di sebuah kampus di Jogja. 

Kedua ya karena sejujurnya saya kurang percaya, masak sidik jari bisa mengetahui kepribadian seseorang. Ketiga karena “scan sidik jari” menggunakan teknologi informasi, yang berarti terdapat algoritma-algoritma perhitungan yang saya sangka bermula dari hasil riset dari gambar sidik jari banyak orang sehingga dibuat kecenderungan.

So, waktu jaman heboh-hebohnya “scan sidik jari”, mas Setiawan Tiada Tara nyaris tiap hari brodkes tentang “scan sidik jari” ini. Mungkin dia lupa, kl saya juga pernah jadi member tim lawak Nggohem. Jadi gak butuh tes-tes begituan, yang penting tetep bisa bahagia. Hahaha

Oh ya, perkenalanku dengan “scan sidik jari” ini udah sejak tahun 2014 kayaknya. Waktu itu ada temen yang datang ke proyek. Dia bawa direkturnya yang ternyata promotor “scan sidik jari”. Saya ditest di tempat dan hasilnya keluar dalam hitungan menit. Saya Intuiting Extrovert. Tukang ngimpi, cocok nya jadi seniman, artis dll.

Jadi inget buku Personality Plus yang pada waktu kuliah di Salemba disuruh ama Pak Zulkieflimansyah sebagai dosen Strategic Management. Btw manajemen strateginya beliau terbukti untuk bikin beliau jadi Gubernur NTB yang baru. Selamat pak. hehehe

Nah selepas “lulus” dari kampus teknologi informasi, saya mulai bergerak mencari ilmu kanuragan lain. Lha ketemunya ama Dhewsi si promotor gokil. Gimana gak gokil, saya kenal dia itu sebagai pegawai di bidang keuangan di perusahaannya. Trus sekarang berubah drastis seperti menemukan kembali jati dirinya. Masak iya orang keuangan yang harusnya otak kiri banget kok malah bisa seneng bikin2 video yang cenderung otak kanan banget. Gokil!

Dia itu maksa2in terus untuk belajar “scan sidik jari”. Gara-gara sebelumnya saya bilang ke dia, “Sini gw jualin aja”. Dia jawab, “Gimana elo mau jualan. Tahu isinya aja kagak!”. Bak smesh Ginting ke pebulutangkis lawan. Hahaha

Akhirnya saya berangkat ikut training dengan skeptis. Plus ditambah dengan segudang informasi negatif. Tapi sebagai mantan trainer di training dan workshop, saya juga mengosongkan gelas saya untuk menerima ilmu baru. Total saya belajar 5 hari dengan 2 materi yang berjenjang.

Kesimpulan yang saya dapat :

Pertama, kepribadian seseorang dibentuk oleh lingkungan dan genetik. Nah untuk mengetahui kepribadian bentukan lingkungan, perlu dilakukan tes psikologi. Untuk mengetahui personaliti genetik bisa dilakukan dengan banyak cara, “scan sidik jari” adalah salah satunya. Dipercaya memiliki akurasi 95%.

Kedua, “scan sidik jari” saya simpulkan bisa melengkapi tes psikologi pada umumnya. Singkronkan, ambil positifnya.

Ketiga, personaliti genetik itu 20% pengaruhnya terhadap kepribadian seseorang. Tapi akan lebih bagus bila personaliti genetiknya kita ketahui sejak dini sehingga kita bisa memberikan lingkungan yang mensupport personaliti genetik kita. Sehingga apa yang terjadi pada sosok Dhewsi, tidak terjadi di Anda.

Pun apa yang terjadi di saya juga begitu. Saya dulu menikmati sekali menjadi seorang trainer yang setiap bulan ada event training. Lama kelamaan, rasanya ada yang kosong. Kayak bukan gw gitu. Hahaha. Kalau sesekali sih boleh lah ngisi training, asal bukan rutin. Dan menurut personaliti genetik saya yang Intuiting Extrovert, ya memang saya kurang cocok jadi trainer. Politikus malah mungkin. Hahahaha

Keempat, teori “scan sidik jari” ini merujuk dari teori-teori lama yakni teori Fungsi Dasar S-T-I-F dari C.G. Jung (1875-1959), teori The Whole Brain Concept dari Ned Hermann, teori Triune Brain dari Paul MacLean (1976).

Kelima, ketika kita tahu personaliti genetik kita nih, kita jadi lebih mengarahkan kemana langkah kita ini. Ketika kita mengetahui personaliti genetik partner kita, kita jadi tau bagaimana harus “nyerateni”nya (nyerateni itu semacam berkomunikasi, berdialog, ngemong, dll). Ketika kita mengetahui personaliti genetik anak kita, kita jadi tau bagaimana mengarahkan cita-citanya.

“Scan sidik jari” itu namanya STIFIn. Kata Scan Sidik Jari saya beri apostrof  untuk menegaskan bahwa STIFIn bukan scan sidik jari, tapi pembagian mesin kecerdasan manusia dan drive-nya yang disebut personaliti genetik. Dan sidik jari hanya salah satu cara untuk mengetahuinya. Ada cara lain untuk mengetahui STIFIn tersebut.

STIFIn ditemukan oleh pak Farid Poniman. Kalau mau cari tau bakat genetikmu, coba scan sidik jarimu. WhatsAppin aja adminku. Dia akan bantu kamu. Klik di sini untuk WhatsApp.

Photo by Keenan Constance on Unsplash

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *