Catatan Kecil Berkunjung ke Pontianak

By | May 2, 2018

Delapan tahun lalu kami bertiga bertemu. Kebetulan saya diundang oleh bro Harry Afandy dkk untuk berbagi cerita dan pengalaman bisnis developer properti. Saya mengajak arsitek besar asal Bandung, mas Boy Barmawi yang karyanya sudah tersebar seluruh pulau-pulau besar di Indonesia untuk bersama-sama membagikan pengalamannya tentang properti, khususnya di bidang perencanaan. Kala itu kami berdiskusi tentang properti. Sekarang Bro Harry Afandy dengan Mitra Sejahtera Group sudah lebih dari 10 lokasi dikembangkan di Pontianak.

(Foto di depan lokasi MS Digital Townhouse – Jalan Sei Raya Dalam, Pontianak)

Dua hari ini (Kamis dan Jumat, 26-27 April 2018), kami bertemu lagi, kembali berdiskusi tentang properti untuk merumuskan konsep properti dengan produk yang ultimate. Produknya seperti apa? Tunggu aja direlease di blog saya inih.

Foto disamping ini adalah foto MS Digital Townhouse tgl 21 Januari 2014, sebelum dibangun. Baru ditanemin banner tegak. Belum juga launching. Dan pada bagian bawah adalah foto saya dan Mr. Harry Afandy, owner MS Group yang bangun MS Digital Townhouse di lokasi MS Digital Townhouse pada tgl 26 April 2018 pada saat MS Digital Townhouse sudah 100% terbangun. MSG create from nothing to something.

Di hari pertama, jam 9 pagi kami meluncur ke MS Kencana di Desa Durian. Sayangnya saya tak sempat foto-foto karena dalam perjalanan dan ketika sampai MS Kencana pun, kami lebih banyak berdiskusi merencanakan masa depan.

Bahkan perjalanan kami dari MS Kencana ke kantor MS Business Center pun rasanya tak ada senda gurau. Terlalu spanneng kakaaak. Hehehe

Jumatan di Masjid Jami Pontianak

Hari pertama di Pontianak lebih banyak bekerja. Di hari kedua ini kebetulan saja adalah hari Jumat. Hari pendek. Saya dan mas Boy diantar bro Harry Afandy untuk jumatan di Masjid Jami Pontianak.

Masjid Jami Pontianak yang juga dikenal dengan nama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman, masjid tertua di sini. Sultan Syarif Abdurrahman sendiri adalah pendiri kota Pontianak. Masjid ini dibangun kisaran tahun 1771 dan berkontruksi kayu dan beratap rumbia kala itu. Pembangunan masjid dilanjutkan tahun 1822 oleh Syarif Usman yang menggantikan sebagai Sultan Pontianak. Kontruksi masjid 90% menggunakan kayu belian. Kayu the best deh pokoknya, kuat dan tahan lama.

Sesampainya di Masjid, kami disambut anak-anak kecil yang menawarkan jasa menjaga sandal kami dengan upah suka rela. Buat yang tak biasa, mungkin akan risih, rapi saya menikmati canda tawa mereka. Alhamdulillah sempat mampir dan shalat di sini. 

Kampung Beting

Selepas jumatan di Masjid Jami Pontianak, sempatkan menyusuri Kampung Beting yang memang satu area dengan masjid. Sebuah kampung di atas air sungai dengan gang-gang sempit.

Di tengah kampung Beting, mampir makan siang Nasi Goreng Kampung. Nasi goreng yang didampingi dengan kacang goreng, telur ceplok, ikan teri, kerupuk dan irisan timun ini lebih tepatnya disebut Nasi Goreng Kampung Cita Rasa Internasional. Karena rasanya tak kalah dengan nasi goreng yang ada di resto bintang lima.

 

Sebenarnya saya masih ingin berlama-lama di Kampung Beting. Kata mas Reza Darwin yang memandu kami, sunset di Kampung Beting itu indah sekali.

“Mas pasti gak nyangka ada sunset seindah itu di Pontianak,” kata Reza mempromosikan.

Sayangnya waktu sudah menunjukan pukul 2 siang. Saatnya kami harus kembali ke MS Business Center untuk kembali lagi berdiskusi properti dan menelurkan produk baru.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *