Market, Market, Market

Tadi baca database permintaan properti yang masuk ke griya.id. Yang diminta range 200-300jtaan di Jogja dan sekitarnya. Hanya ada 20% yang minta di atas 500jt.

Tadi baca iklan tanah di daerah selatan Jogja. Harga per m2nya kok nyaris 3jt.

Rumah yang diminta 300jtaan. Tanah yang tersedia 300jtaan.

Jadi developer itu udah gak seindah dulu. Makanya saya juga udah jarang banget ngajakin jadi developer. (Training Menjadi Developer Properti yang langsung saya bawakan, terakhir tahun 2014).

Pun yang mau terjun ke sana, selalu saya wanti2… Market, market, market. Seperti menggantikan jargon lama, Lokasi, lokasi, lokasi.

Tapi properti itu gak cuma developeran. Kita masih bisa main di properti produktif, yakni penguasaan aset properti dan mengelolanya. Bukan menjualnya.

Kita bisa bikin warung, kost2an, tanaman, dll yang bisa menghasilkan income. Ini pun akan ada masanya. Terutama masa bisnisnya. Contoh sepinya mall, toko, kios yang kalah dengan toko online.

Kalau di teori bisnis ada yang namanya product life cycle. Mungkin kira2 gitu.

Prinsipnya cari momentum masuk dan keluar. Dan yang ini gak ada ilmunya.

“Wah sampeyan mengendorkan semangat ane. Ane baru mau mulai nih”

Oh ya maaf. Maksudnya bukan begitu. Tapi biar antum gak salah langkah. Karena saya sering bertanya balik ketika ada yang bertanya ke saya. Saya bertanya kurang lebih seperti ini, “Kalau antum jual tipe itu dengan harga segitu. Kira-kira ada yang mau beli gak?”

Dan mostly, njawabnya gelagepan.

Kalau ada data 75% orang beli properti dengan KPR dan sisanya beli properti dengan cash atau cash bertahap, kira2 apa yang menurut Anda bisa jadi peluang?

Kalau (sekarang) ada data backlog rumah sebanyak 13jt, kira2 apa yang menurut Anda bisa jadi peluang?

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *