Kavling Kambing

, , Leave a comment

Temenku, Algira, buka Kavling Qurban. Jadi inget diskusi dengan teman2 dari YBP Jatim pada waktu kopdar tahun 2015. Kala itu saya memaparkan ide (turunan) dari bisnis properti, saya sebut Kavling Kambing.

Kenapa kambing?

Ada beberapa alasannya, antara lain :

1. Kambing itu dari ujung kepala sampai ujung kaki laku semua. Ada gule kepala kambing, sop kaki kambing, sate kambing, sate klathak, tengkleng, kicik, tongseng dll.
2. Kulitnya laku dijual, bahkan kotorannya berjasa untuk pupuk tanaman.
3. Dari usia 3 bulan sudah bisa dipanen dijadiin makanan. Tau istilah BATIBUL atau BALIBUL? Itu kependekan dari BAWAH TIGA BULAN atau BAWAH LIMA BULAN. Yakni kambing yang disembelih dan diolah jadi masakan. Karena lebih empuk.
4. Usia 1 tahun, bisa dijadikan kambing qurban.
5. Dibandingkan menyimpan emas atau dinar, kambing bisa lebih menguntungkan, karena kambing bisa beranak pinak. Sedangkan emas atau dinar, tidak bisa beranak. Artinya tidak bisa berkembang.

Nah, kambing ini dipolakan dengan properti. Misal saja beli lahan 1 ha (tidak harus strategis, tapi yang penting ada akses). Kemudian anggaplah 40% dibangun sebagai fasum dan jalan. Jalannyapun gak harus diaspal. Yang 60% atau 6000m2 dipecah-pecah jadi 20 kapling. Berarti 1 kapling luasnya 300m2. Di atasnya dibangun kandang, yang berarti tidak semahal membangun rumah. Kemudian bekerjasama dengan peternak kambing untuk mengelola si kambing itu.

Inilah konsep sederhana dari kavling kambing. Punya properti, punya kambing, punya income, punya aset. Dan gak cuma nanem beton. (hiks)

Wanna try?

 

Leave a Reply