Kredit Pemilikan RIBA?

, , Leave a comment

Belakangan ini marak dengan jargon TANPA RIBA dan PROPERTI SYARIAH. Mungkin sekitar tahun 2012, tema ini mulai menanjak. Saya pun senang karena ini yang saya tunggu-tunggu juga. Saking senengnya, saya pun mengendorse buku properti syariah dan komunitas tanpa riba pada waktu itu.

Btw, sebenarnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah memfatwakan bahwa bunga bank itu haram sejak tahun 2004. Silahkan baca FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 1 Tahun 2004 Tentang BUNGA (INTEREST/FA’IDAH). Lebih lengkapnya tentang fatwa-fatwa MUI, silahkan mampir ke http://dsnmui.or.id.

Semalam di Group Whatsapp YukBisnisProperti Jakarta 1 (GWA YBP Jakarta 1), terjadi diskusi tentang judul di atas, “Kredit Pemilikan RIBA”. Saya copas di sini, saya edit typo agar mudah dimengerti, saya sedikit potong yang berbau iklan, saya samarkan nama dan nara sumber untuk menghargai orang-orang yang disebutkan dalam diskusi maupun yang terlibat diskusi. Semoga tidak mengurangi esensi dari diskusi kami di GWA YBP Jakarta 1.

Silahkan


[21:38, 4/21/2017] MJ: KPR, Kredit Pemilikan RIBA!

Dalam melakukan transaksi pembelian properti, fasilitas KPR perbankan tetap menjadi pilihan utama konsumen. Hasil survei yang diadakan Bank Indonesia pada kuartal II/2016, mengindikasikan sebagian besar konsumen (75,68%) masih memilih fasilitas KPR sebagai fasilitas utama dalam melakukan transaksi pembelian properti residential.

Terutama rumah tipe kecil dan menengah. Tidak mengherankan jika sejumlah bank berupaya memperkuat bisnisnya di sektor properti. Misalkan saja, salah satu Bank konvensional Per Desember 2015 telah mengucurkan KPR sebesar Rp23,27 triliun. (sumber: koran sindo).

Riba dalam KPR pada kenyataanya terjadi karena konsumen yang ingin membeli rumah datang ke lembaga keuangan atau bank, lalu bank tersebut menyanggupi keinginan konsumen untuk memiliki rumah dengan cara memberikan pembiayaan atau pinjaman kepada konsumen.

Dari hal ini yang terjadi adalah bank memberikan pinjaman yang berarti hutang-piutang antara konsumen dengan bank, kemudian nilai yang diberikan konsumen lebih besar dari dana yang diterimanya yang biasa disebut skema pembiayaan oleh bank.

Selisih jumlah uang yang diterima oleh konsumen dari skema pembiayaan ini dibanding dengan jumlah yang wajib dibayarnya inilah yang dinamakan Riba dalam KPR (Kredit Pemilikan Rumah).

❓ Apakah lembaga keuangan atau bank dapat membuat skema pembiayaan KPR yang halal tanpa Riba?

❓ Apakah Anda yakit bahwa KPR dari perbankan syariah sudah benar-benar halal tanpa riba?

❓ Lalu, Bagaimana cara agar kita dapat membeli rumah dengan skema pembiayaan yang sesuai syariah?

⚜ Hadirilah Seminar SOHIB ⚜

“KPR, Kredit Pemilikan RIBA” yang akan diselenggarakan pada

(saya potong sampai di sini karena terlalu panjang)

[21:41, 4/21/2017] Admin: Sudah izin Admin pak?

[21:47, 4/21/2017] MJ: Oiya, maaf ya admin dan teman” 😨🙏🏻

[21:47, 4/21/2017] Admin: 🙏🙏🙏 Gpp pak..yg penting sudah klarifikasi

[21:48, 4/21/2017] Saya: Anda yakin Bank Syariah ada riba?

[21:50, 4/21/2017] Saya: Atau punya KPR versi sendiri? Yakin sudah gak ada ribanya?

[21:51, 4/21/2017] Admin: Dpt pertanyaan dari Guru besar 🙏🙏 @MJ

[21:55, 4/21/2017] MJ: Mas aryo yakin ga? 😁 Realitanya ada pembiayaan di bank syariah yang tdk sesuai fatwa DSN, guru kami sedang ada proyek advokasi ke bank syariah tersebut.. Yuk kita mengkaji tentang riba lebih luas di SM.. Tamu kehormatan kalau mas aryo mau ikutan acara diatas 😍🙏🏻

[21:56, 4/21/2017] Saya: Fatwa mana dr DSN yg tidak sesuai praktek?

[21:57, 4/21/2017] MJ: Mangga ditanyakan ke guru kami, saya blm punya kapasitas buat jawab hal itu 🙏🏻🙏🏻

[21:58, 4/21/2017] Saya: Kl tdk sesuai praktek. Praktisinya yg perlu kita ajarin

[21:58, 4/21/2017] Saya: Bapak nyebar di forum saya.

[21:59, 4/21/2017] Saya: Apakah kl ada praktisi devsyariah tidak sesuai syariah, trus saya boleh menghukumi developer syariah tidak halal?

[22:00, 4/21/2017] Saya: Apakah kl ada praktisi bank syariah tidak sesuai syariah, trus saya boleh menghukumi bank syariah tidak halal?

[22:00, 4/21/2017] Saya: Pertanyaan setara

[22:09, 4/21/2017] MJ: Menurut Fiqih Muamalah Maaliyah yang di ajarkan di SM, yaitu Shari’ah Standard dari AAOIFI (Accounting & Auditing Organization for Islamic Financial Institution) yang dibuat oleh ulama dunia dan dipakai oleh Bank Syariah di Saudi, Ar-Rajhi Bank. Bank syariah di Indonesia belum 100% menerapkan sistem syariah nya, terutama pada sistem pembiayaan.

Maaf yaa pak Aryo saya mohon izin tadi belum izin di forum ini 🙏🏻

[22:11, 4/21/2017] MJ: Tidak perlu menghukumi bank syariah tidak halal pak, kami masih punya bank syariah juga, karena niatan awalnya sudah baik

[22:12, 4/21/2017] Saya: Nah menarik.

Kl gitu, bank syariahnya atau DSN nya yg perlu diperbaiki?

Krn setau saya, di Indonesia punya DSN, OJK, Dewan Pengawas Syariah, PAPSI, Akunting Syariah.

Apakah harus mengacu kepada Arab unt urusan ini?

[22:12, 4/21/2017]ZI: Ada missing info. Belum 100% syariahnya dalam hal apanya.. kl pembiayaan dalam hal yang mana..

Sekalian ikut belajar..

🙏🙏🙏

[22:13, 4/21/2017] Saya: Anggap saja saya anti marketingnya dr forum sampeyan.

[22:13, 4/21/2017]DD: Nyimak

[22:14, 4/21/2017] AW: 👍 discus

nyimak

[22:14, 4/21/2017]ZI: Jgn nyimak aja.. boleh urun pendapat.. 😀🙏

[22:15, 4/21/2017] Saya: Atau hanya perbedaan bahasa yg membuat MUI gagal paham shg fatwa nya DSN tidak sesuai atau BS yg gagal paham menterjemahkan fatwa MUI.

Apa ya MUI sekumpulan org yg tidak paham atas fikih muamallah shg trrjadi beda paham dgn arab?

[22:16, 4/21/2017] Saya: Btw saya juga menggunakan pembiayaan sendiri.

[22:16, 4/21/2017] Saya: BS = Bank Syariah

[22:17, 4/21/2017]AM: Ini bener bgt, bahkan syariah hanya buat kedok aja..sya pernah alami itu.. ttp msh ada denda keterlambatan dll sprt konvensional

[22:17, 4/21/2017] Saya: Apakah sudah baca fatwa MUI tentang Denda keterlambatan?

[22:18, 4/21/2017] Saya: Di luar bank.

[22:19, 4/21/2017] UF: Nyimak👨‍💻

[22:19, 4/21/2017]AM: Belum, boleh ksh tau?

[22:20, 4/21/2017]AM: Sudahkan anda tau arti denda keterlambatan dlm keuangan syariah? Sudah ada ustadz yg lbh paham ttg itu

[22:21, 4/21/2017] Saya: Download aja pak di DSNMUI.com

[22:22, 4/21/2017] Saya: Sorry dsnmui.or.id

[22:22, 4/21/2017] Saya: Apakah MUI bukan sekumpulan ustad, shg bikin fatwa ngawur tentang denda keterlambatan?

[22:23, 4/21/2017] MJ: Sebenarnya tidak harus mengacu kepada arab, hari kamis kemarin saya baru dapat cerita dari guru besar kami di SM, Dr. ET, MA. Beliau S1, S2, S3 nya di Saudi dan pernah di Bank Ar-Rajhi.

Beliau cerita yang intinya DSN/Ulama di arab itu lebih murni dalam berfatwa karena tidak digaji oleh bank maupun lembaga manapun tapi digaji oleh Negara. Beda dengan di Indonesia, DSN nya masih digaji oleh lembaga/bank itu sendiri.

Jadi apa fatwa DSN tidak sesuai syariah? Hemat saya, sebenarnya tetap sesuai syariah, namun fatwanya tidak diperjelas, dibuat ambigu dan dimultitafsirkan oleh Bank Syariah dan bank sentral.

Wallahualam.

Itu menurut apa yang saya pelajari sebagai santri di SM, tulisan diatas mungkin belum sepenuhnya benar karena saya masih belajar juga 🙏🏻🙏🏻

[22:24, 4/21/2017]AM: Nah setuju… colek @Saya

[22:24, 4/21/2017] Saya: Jadi yg bermasalah DSN MUI atau Bank Syariah?

[22:25, 4/21/2017]AM: MUI d indonesia msh dicampur dgn kepentingan politik dan kekuasaan..setelah itu silahkan anda nilai sendiri, qt hanya saling ingatkan..toh yg tgg jwb dosa kan diri sendiri

[22:26, 4/21/2017] Saya: Ya silahkan.

[22:30, 4/21/2017] Saya: solusinya keren. punya bank sendiri. 👍🏼

[22:31, 4/21/2017] MJ: Yang bermasalah ada di Bank Syariah nya yang tidak menerapkan DSN dengan benar, apa boleh sebut merek disini?

Jadi, ada salah satu bank syariah besar yang telah menerapkan Shari’ah Standard AAOIFI ini, dan beberapa waktu yang lalu Dirut nya dicopot dengan pengumuman/pemberitahuan dan upacara perpisahannya hanya 1 hari saja, sangat dadakan dan menimbulkan banyak pertanyaan..

Wallahualam

[22:31, 4/21/2017] MJ: Dari kebijakan bank sentral nya ini yang masalah

[22:31, 4/21/2017] Saya: btw saya buka webnya AL Rajhi… Rate 1% untuk kartu kredit. Apakah ini sesuai dengan AAOIFI ?

[22:32, 4/21/2017] Saya: BNIS ? gpp.. sudah viral juga.. ahahha

[22:33, 4/21/2017] Saya: tapi itu gosip lah. gosip artinya gak punya dasar yang bener.

termasuk MUI yang dibilang terkait politik.

gak ada dasarnya kecuali kasak kusuk.

[22:33, 4/21/2017] MJ: Kalau pertanyaan ini saya ga punya kapasitas jawabnya, tanya ke ustadz ET aja langsung ya 😅🙏🏻

[22:33, 4/21/2017] Saya: tp yo gpp.. kita kan seneng kasak kusuk

[22:35, 4/21/2017] MJ: Iya 😃 tapi per detik ini sistem disana masih menggunakan Dewan Pengawas Syariah nya Ustadz ET

[22:35, 4/21/2017] Saya: saya seneng jawaban yang berdasar spt pake punya AAOIFI

[22:35, 4/21/2017] MJ: Di beberapa cabangnya sudah diterapkan

[22:36, 4/21/2017] Saya: saya lagi buka webnya AAOIFI

[22:36, 4/21/2017] Saya: http://aaoifi.com/?lang=en

[22:37, 4/21/2017] MJ: Betul, saya juga satu frekuensi dengan SM karena mereka tidak menghukumi sesuatu dari nama nya, tapi dari sistem/point” akadnya

[22:40, 4/21/2017] Saya: Al Rajhi punya 4 macam kartu kredit. 2 kartu kredit dilabeli sharia compliance. 2 kartu kredit tidak.

2 kartu kredit yang tidak dilabel sharia compliance, mengenakan rate 1% (terendah), artinya bisa lebih tinggi daripada itu. Tapi tidak mengenakan denda

[22:41, 4/21/2017] MJ: Kalau mau diskusi kesitu saya belum bisa komentar apa apa, jujur saya masih santri di SM per februari 2017 ☺

[22:43, 4/21/2017] Saya: Denda keterlambatan versi MUI diperbolehkan untuk dikenakan selama nasabah dzalim. kl nasabah yang tidak mampu, tidak boleh dikenai denda. masing2 bank syariah punya persyaratan ketidak mampuan itu. misal : Surat Keterangan Tidak Mampu dari RT, RW, kelurahan setempat.

sependek yang saya tau itu. mohon koreksi juga.

[22:44, 4/21/2017] Saya: common sense aja to pak? tadi kan dibilang sesuai AAOIFI. salah satunya bank Al Rajhi. Tapi bank itu pake bunga 1%. Apa yang ini masih syariah?

kan jelas tidak syariah,.

[22:48, 4/21/2017] Saya: dari web AAOIFI

AAOIFI Shari’ah standards have been made part of mandatory regulatory requirement in jurisdictions such as Bahrain, Oman, Pakistan, Sudan, and Syria.

AAOIFI Shari’ah standards have also been adopted by Islamic Development Bank Group, a multilateral institution.

In addition, AAOIFI Shari’ah standards have also been used as basis of national Shari’ah guidelines in jurisdictions such as Indonesia and Malaysia.

In other jurisdictions including Brunei, Dubai International Financial Centre, France, Jordan, Kuwait, Lebanon, Saudi Arabia, Qatar, Qatar Financial Centre, South Africa, United Arab Emirates and United Kingdom as well as in Africa, Central Asia and North America, AAOIFI Shari’ah standards have been used voluntarily as basis of internal guidelines by leading Islamic financial institutions.

[22:48, 4/21/2017] Saya: saya tebelin : artinya indonesia sudah mengacu kepada AAOIFI

[22:56, 4/21/2017] Saya: di Indonesia ada PAPSI (Pedoman Akuntasi Perbankan Syariah Indonesia). Sekitar ada 20 bab.

ada juga PSAK Syariah- Pedoman Standar Akuntansi Syariah … ada mulai dari PSAK 59, 101-111 …

[22:57, 4/21/2017] Saya: mungkin setara dengan AAOIFI kl melihat karakter.

saya lagi pelajari PAPSI dan PSAK Syariah.

[22:58, 4/21/2017] Saya: Tentang TANPA RIBA — YESSS saya sepakat BANGEEET!

[22:58, 4/21/2017] Saya: Tentang TANPA BANK SYARIAH ..

nah di sini letak banyak perbedaannya

[22:59, 4/21/2017] MJ: Subhanallah, cocok nya pak aryo langsung diskusi dengan Ustadz ET nya aja pak 😅🙏🏻

[22:59, 4/21/2017] Saya: adanya sampeyan mas 😀

[22:59, 4/21/2017] MJ: Kalau sejauh ini rekan” disini membuat akad khusus dgn bank syariah

[23:00, 4/21/2017] MJ: Jadi bukan dari akad default/SOP nya bank syariah itu

[23:00, 4/21/2017] Saya: yes setuju,. akad default bisa di nego

[23:00, 4/21/2017] MJ: Kalau proyek besar dan jago nego biasanya di approve 😃

[23:02, 4/21/2017] Saya: Jujur saja, saya yang kurang cocok adalah benturan dengan MUI. sesama muslim.

pasti ada cara yang lebih indah bila memang tidak ada kesamaan berpikir.

[23:22, 4/21/2017]ZI: Setuju..

Larangan RIBA bahkan bukan hanya dalam Islam.. tapi juga dilarang dalam ajaran agama lain..

Karenanya kita sepakat untuk menolak..

Tetapi dalam hal tafsir terhadap keberadaan riba harus diakui terdapat kekayaan pendapat..

Maka hemat saya..

Alangkah eloknya jika perbedaan tidak diekspresikan dengan serangan kepada yang berbeda..

Misal dengan menggunakan kalimat sejenis KPR = Kredit Pemilikan Riba..

Secara komunikasi tonenya cenderung negatif.. mengandung provokasi dan agitasi nan menghakimi dan memojokan.. apalagi ditambah bumbu-bumbu narasi yang cenderung menebar ketakutan..

Bukankah lebih syar’i menawarkan harapan?

Saya kuatir niat bersyariah jadi dilakukan dengan cara yang tidak syariah..

Padahal akhlak itu utama dan aturan syariah pada substansinya adalah keberpihakan kepada kemanusiaan.. agar kehidupan berjalan tertib tanpa penindasan atau ketidakadilan oleh satu manusia thd manusia lain..

Dalam berpendapat juga kita perlu adil..

Pertama, harus punya dasar yang jelas dalam berargumen.. perlu ada rujukan.. tidak asal menuduh terlebih dengan mengaitkan dengan politik dan kekuasaan.. tanpa sadar, kita menuduh pihak lain politis dengan cara pikir yang juga sangat politis..

Kedua, ada baiknya tidak hanya merujuk kepada satu sumber saja.. apalagi berpegang kepada “cerita”.. prinsip tabayyun adalah perilaku ilmiah.. karenanya baik secara religius-spiritual maupun saintifik perlu dikedepankan..

Ketika menerima sebuah informasi.. ajukan pertanyaan verifikasi.. benarkah? Adakah pendapat yang berbeda? Second opinion?

Demikian dari saya yang awam sekadar ikut-ikutan. Mohon maaf jika ada bagian yang membuat tidak berkenan. Tidak bermaksud membuat kesimpulan. Hanya sedikit catatan yang belum tentu mengandung kebenaran.

17-Sanksi_Menunda_Pembayaran (Karena hanya copas dari GWA YBP Jakarta 1, konten gambar dan dokumen tidak tercopy, maka saya upload di sini agar bisa banyak yang baca.)

[23:32, 4/21/2017] Saya: 👆🏽 FATWA DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 17/DSN-MUI/IX/2000 Tentang SANKSI ATAS NASABAH MAMPU YANG MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN

[23:32, 4/21/2017] Saya: Silahkan DOWNLOAD.

[00:45, 4/22/2017] Saya: Ustad ET bukan anggota DPS BNIS. confirmed

[00:51, 4/22/2017] Saya: Hadis Nabi riwayat Nasa’i dari Syuraid bin Suwaid, Abu Dawud dari Syuraid bin Suwaid, Ibu Majah dari Syuraid bin Suwaid, dan Ahmad dari Syuraid bin Suwaid: “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya.”

saya copasin dari Fatwa DSN MUI

alrajhibank kpr

[01:01, 4/22/2017] Saya: Al Rajhi Bank yang sesuai syariah AAOIFI mengunakan Annual Percentage Rate 5.05% untuk Finance a Home alias KPR. Sumber :  http://www.alrajhibank.com.sa/en/personal/home-finance/pages/home-and-personal-finance.aspx

[01:01, 4/22/2017] Saya: yang katanya sesuai AAOIFI

alrajhibank kartukredit

[01:02, 4/22/2017] Saya: Al Rajhi Bank juga mengenakan lowest rate 1% (bunga terendah 1%) untuk kartu kredit Platinum Visa Credit Card. Sumber : http://www.alrajhibank.com.sa/en/personal/credit-cards/pages/products.aspx

[01:06, 4/22/2017] Saya: Mohon maaf rekan2.. mari kita belajar bareng2. Saya share yang saya ketahui. Bukan untuk berdebat atau ngetes ilmu. Bukan pula karena merasa saya lebih benar atau lebih syariah.

Laa Ilaha Illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin

[01:06, 4/22/2017] Saya: Matur nuwun. Bobo dulu.

 

 

 

Leave a Reply