Belajar Dari Warung Lotek Sederhana

, , Leave a comment

Selepas jumatan tadi siang, saya dan mas Agung Property Way juga Silas Parawira lanjut makan siang di sebuah warung lotek. Namanya Warung Lotek Sederhana Pak Mul. Tepatnya di Jalan Paris dekat perempatan Prawirotaman. Langganan dan favorit saya.

Meski menamai dengan Lotek Sederhana, namun ada menu gado-gado dan kupat tahu. Mendampingi beberapa variasi menu lotek lainnya. Tau lotek atau gado-gado kan? Itu tuh, original salad from Indonesia.

g3523

Satu yang saya ingat bahwa dulu ini warung gorengan. Jualan macem-macem gorengan dan hanya buka pada malam hari. Jaman kecil dulu, rasanya ini udah jadi warung gorengan yang “legend” banget! Nah sekarang jadi warung lotek, buka menjelang siang, jam 1 atau jam 2 udah habis-bis! “Legend” juga nih!

“Bu, dulu kan buka gorengan kan?”, tanya saya sembari mengingat masa kecil dulu ketika kerap kali diajak ibu atau kakak-kakak ku beli gorengan di sini. Saya sering berdiri di pojokan jendela warung itu dimana wajan penggorengan dapat terlihat jelas.

“Iya mas.”, jawab bu Mul sambil menguleg bumbu kacang.

“Enakan jualan gorengan apa lotek bu?”, selidikku

“Ya sama aja. Ada enaknya, ada gak enaknya. Kalau gorengan cukup berdua aja, tapi capek karena bukanya malam. Kalau lotek, harus banyak yang bantu, jadi tidak capek. Malamnya bisa istirahat.”, terang bu Mul sembari mengaduk-aduk daun-daun hijau komponen lotek.

“Mulai kapan je bu jualan gorengan?”

“Tahun 78 sampe 95 jualan gorengan. Trus tahun 92 sampai sekarang jualan lotek!”

Wow! Warung ini seumuran saya!

image3486

Alhamdulillah, saya belajar banyak dari warung ini.

1. Tidak ada salahnya change business. Dulu jualan gorengan, sekarang jualan lotek. Keduanya ternyata bisa dilakukan dengan sukses pula.
2. Ada masa transisi dalam rangka “berubah”. Masalah waktu bisa jadi masalah masing-masing pribadi, tapi masa transisi menjadi penting jikalau mau berubah ke bisnis lain.
3. Just Do It and Persistent! Lakukan saja apa yang dipercaya mampu membawa perubahan dan GIGIH!
4. Remember your customer! Ada satu momentum dimana anaknya bu Mul menyerahkan bungkusan teh panas dalam plastik. Plastik untuk saya berbeda dengan plastik untuk mas Agung. Nah anaknya bu Mul mengingatkan, “Yang punya mas Aryo, plastiknya saya potong ya!”. Jujur saja, saya lupa apakah pernah memperkenalkan diri nama saya atau mungkin bu Mul dan team “mencuri dengar” nama-nama para customerna. Tapi strategi ini makjleb buat konsumen!
5. Ada satu stiker yang dipasang di sudut warung tersebut dan kebetulan saya foto juga. “HIDUP ADALAH IBADAH” . Ketika hidup adalah ibadah, maka kita akan merasa jauh lebih tenang menjalaninya. Tetep berusaha dan berdoa, masalah hasil dan rejeki, hanya Allah yang Maha Memberi Rizki.

Matur nuwun bu Mul dan team! Saya belajar banyak dari ibu dan warung ini.

 

Leave a Reply