home #SeriReview, #SeriSeru Ke Lamongan, Main Ke Proyek Kang Dimas

Ke Lamongan, Main Ke Proyek Kang Dimas

Sebelum berangkat ke Lamongan, saya mencoba mencari tahu tentang Lamongan. Berbekal teknologi internet dan mesin pencari, saya ketikkan kata “Lamongan” di Google Trends. Walhasil, 4 kata kunci yang terkait dengan Lamongan dari 5 kata kunci perdana yang disediakan adalah terkait dengan Soto Lamongan.

Sepertinya Soto Lamongan sudah menjadi semacam brand bagi kota Lamongan. Seperti Jogja dengan gudegnya, Semarang dengan Lumpianya, dll.

Ashr Senin sore (7 Nov), setelah selesai membuat dan menyerahkan Brand Identity proyek properti di Maguwo Jogja, saya seaching tiket. Dan nekat berangkat ke Lamongan malam itu juga. Naik pesawat turun Juanda, Surabaya yang ada di Sidoarjo. (semacam Soekarno Hatta di Jakarta tapi di Tangerang).

Singkat cerita Kang Dimas jemput saya di bandara malam harinya.

Kata Kang Dimas, “kita malam ini nginep Surabaya aja”

Dalam hatiku, lha wong mau ke Lamongan, kok malah nginep Surabaya. Kan mau survey-survey properti, saya biasa survey properti dengan melihat kondisi malam hari agar tahu “crowd”nya. Tapi yo wis lah, saya cuma tamu yang diundang untuk melihat potensinya.

Pagi hari, Selasa, kami berangkat ke Lamongan. Perjalanan ditempuh kurang lebih 1 jam 28 menit 31 detik, kami sudah masuk kota Lamongan. Side seeing sebentar di jalan-jalan utama Lamongan.

Kemudian saya bertanya, “Malam ini kita nginep di Lamongan?”

“Nginep Surabaya lagi aja mas. Hotel di sini tidak banyak pilihan.”, jawab Kang Dimas.

Saya manggut-manggut aja sih.

Kemudian kami melintas di sebuah hotel menjelang masuk kota Lamongan.

“Itu hotel yang udah paling lumayan di Lamongan mas.”, terang Kang Dimas.

“Ntar nginep di situ?”

“Ndak mas. Surabaya aja. Masak sampeyan ta inepin di situ.”

Saya tertawa aja. Belum tau dia kalau dulu saya sering tidur di kantor proyek, cuma pake tiker dan dikerubungi nyamuk plus kadang tikus ikutan melintas. Jadi hotel yang sederhanapun sudah bisa terasa mewah buatku. Hehehe.

Kami akhirnya sampai di proyek milik Kang Dimas di Bukit Bintang Residence. Maingatenya keren. Jalan utamanya lebar banget. Truk-truk bisa balapan. Itu istilah teman-teman broker saya kalau mengistilahkan lebar jalan yang lebar banget.

“Potensi properti Lamongan itu buat saya sedang sunrise. Industri mulai dicanangkan. UMR masih murah dibanding Gresik. Pabrik-pabrik mulai dibangun dan bergeser dari Gresik Surabaya ke Lamongan. Plus rumah sakit depan itu, rumah sakit besar banget di Lamongan.”, kata Kang Dimas

Saya ya cuma monthak-manthuk saja. Tapi tadi saya sempat masuk rumah sakit itu dan melihat parkirannya yang penuh. Terus saya lihat beberapa rumah kost di dekat rumah sakit. Saya jadi inget ada banyak rumah kost di bilangan Slipi Jakarta. Disewakan harian maupun bulanan. Penghuninya adalah sebagian (Tidak semuanya) adalah keluarga pasien si rumah sakit yang berada di Slipi itu. Dan tentu ada perawat, dokter-dokter muda dan pegawai rumah sakit tersebut. Selain karyawan dan mahasiswa.

“Inget kan tadi masuk ke parkiran rumah sakit mas,” lanjut kang Dimas

Batinku, “wheladhalah… kok tau lho aku lagi mbayangin rumah sakit. Ini jangan-jangan Kang Dimas itu sodaranya Kanjeng Dimas Taat Pribadi?”

“Iyo mas, gimana?” ini yang terucap di mulutku, bukan apa yang ada dibatinku. hehehe

“Itu salah satu yang memicu aku mau bikin rukost di proyekku ini mas. Jadi blok B ini ada skitar 13 unit, mau aku jual dalam bentuk rumah kost dengan 6-8 kamar. Nanti orang beli rukost dan akan dioperasionalkan oleh manajemen kost tersendiri. Bisa jadi kost, .juga bisa jadi homestay mas.” jelas mas Dimas.

“Jadi homestay?” tanyaku

“Iya.. tadi kan liat hotel-hotel di Lamongan to mas? Ada yang gak ada parkirannya. Dan tidak banyak hotel di sini. Nah ini peluang menurutku mas. Jalan depan itu kan lebar banget, bisa jadi tempat parkir untuk homestaynya ini kelak. Ini selling point juga.”

“Iya sih. Sekarang harga tanah udah mahal. Mau bikin rumah juga udah mahal. Padahal orang butuh tempat tinggal. Kalau mereka yang butuh tempat tinggal belum mampu, pilihannya adalah ngekost. Apalagi kalau masih single.” ujarku menambahi biar keliatan kayak orang pinter. hehehe

“Rukost ku ini rencananya bisa dibeli per kamar. Jadi nilai investasinya bisa sangat terjangkau. Dan kelak ini akan dikelola oleh Azizan Management mas.” lanjutnya

“Emang mau dijual berapa?”

“Tunggu tanggal mainnya mas!”, kata Kang Dimas sambil senyum-senyum

Batinku, “kok senyumnya mirip Kanjeng Dimas ya?”

“Ini strategi menggandakan uang yang paling jos! Gak kayak sulapnya Kanjeng Dimas.” kata Kang Dimas

Batinku lagi, “LHo kok dia tau kl aku lagi mbatin Kanjeng Dimas. Weeelhaadhalaah!”.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: