Negative Branding, Debat dan Mencintai Sewajarnya Saja

, , 1 Comment

2010 08 20 pencilBegitu banyak media berita bertebaran di dunia maya, ada (semoga tidak banyak) yang memberitakan berita dengan tendensi tertentu. Saling lawan dan lempar isu. Sehingga setiap saya baca berita, bukan lagi penting bagi saya berita tersebut, tapi lebih penting adalah mengapa berita tersebut diluncurkan.

Negative Branding

Dulu saya pernah belajar jurnalisme, bahwa berita sebaiknya mengacu cover both side alias memberitakan dari dua sisi yang berbeda, dan adalah menjadi hak pembaca mendapatkan berita yang seimbang. Dan seorang jurnalis tidak boleh memberi atau membentuk opini. Bila dua unsur tersebut tidak ada dalam sebuah berita, maka tidak layak disebut berita, tapi adalah media branding. Sayangnya bukan branding promo, tapi branding yang menjatuhkan alias negative branding.

Padahal ….

Allah SWT berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan mu itu.” (QS. Al Hujurat: 6-8) 

Dan yang namanya negative branding, bisa memicu debat di kalangan pembaca. Karena dunia ini tidak bulat sempurna yang berarti nyaris tidak mungkin orang memiliki satu pemikiran yang sama. Dalam dunia nyata, ada ilmu statistik. Ilmu yang menghitung prosentase persepsi atau demografi. Pernahkah 100% ?

dunia ini tidak bulat sempurna

Tetapi ada (semoga tidak banyak) kawan kita yang nge-share berita-berita tendensius yang belum tentu benar dan cenderung bermain pada negative branding bukan?

Jauhi Perdebatan

Cukup saya bantu bagikan beberapa dalil tentang menjauhi perdebatan atau tidak ada manfaatnya dalam berdebat.

Dari Abu Umamah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidaklah suatu kaum tersesat setelah tadinya mereka berada di atas petunjuk kecuali karena mereka adalah kaum yang senang melakukan perdebatan.” Kemudian beliau membaca ayat ini, “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud berdebat saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf: 58) (HR. At-Tirmizi no. 3253, Ibnu Majah no. 47, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5633)

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dimurkai Allah adalah orang yang paling keras permusuhannya dan yang menantang jika diterangkan hujjah kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2457 dan Muslim no. 2668)

Dari Abu Umamah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku akan menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan kedustaan walaupun dia sedang bergurau. Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi siapa saja yang berakhlak baik.” (HR. Abu Daud no. 4800 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1464)

Umar Bin Khattab berkata : “Seseorang tidak akan merasakan hakikat iman sampai ia mampu meninggalkan perdebatan yang berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran, dan meninggalkan berbohong meskipun hanya bercanda padahal ia tahu seandainya ia mau ia pasti menang dalam perdebatan itu” (Kanzul Ummal juz 3 hal 1165)

Sekarang pakai logika, bertanyalah kepada diri sendiri, siapakah yang diuntungkan dari pertentangan atau perdebatan itu? Kalau menang, dapat apa? Bagaimana bila berita itu tidak benar?  Maka sampaikan bila itu bermanfaat baik bagi agamamu, keluargamu, teman-temanmu, pekerjaan dan bisnismu, serta mempersatu bangsa dan negaramu.

Sampaikan bila itu bermanfaat baik bagi agamamu, keluargamu, teman-temanmu, pekerjaan dan bisnismu, serta mempersatu bangsamu

Cintailah Sewajarnya Saja

Hidup ini memang banyak pertentangan dan keseimbangan.  Ada capres A ada capres B. Ada mahzab A ada mahzab B. Ada gaya A ada gaya B. Ada cinta ada juga benci. Tapi cintailah sewajarnya dan bencilah sewajarnya. Kelak bisa berbalik suatu saat.

Abu Hurairah radhiyallahu anhu secara marfu’: “Cintailah kekasihmu sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi seorang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang engkau benci sewajarnya saa karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi kekasihmu” (HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh syaikh Al Albani)

Semoga ini menjadi pelajaran bagi saya sendiri dan bila bermanfaat untuk Anda, sebarkanlah. Semoga kita dalam lindungan Allah Swt. Aamiin

 

 

 

One Response

Leave a Reply