Keep Rendah Hati, Pasrah dan Terus Doa

, , Leave a comment

ikan‘Allahumma, la ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin – ya Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku ini termasuk orang-orang yang zalim’. Ini adalah doa nabi Yunus ketika di dalam perut ikan yang bernama Nun. Tertulis pada Al Quran Surat Al Anbiya ayat 87.

Ada 3 hal yang saya pelajari dari doa ini, Pertama adalah sebuah kerendahan hati, bahwa seorang nabi justru merasa menjadi orang dzalim. Nabi yang sudah jelas alim, tapi masih merasa dzalim. Sungguh ini seperti menampar muka saya sendiri yang kadang malah merasa alim, padahal saya jelas bukan nabi. Ustadpun bukan!

Lebih mendalam lagi, kadang kita merasa telah melakukan sesuatu dengan hebat. We do the great things! Kemudian kita tepuk dada, “Ini kerjaan saya nih!”. Ayat ini kembali “menampar” saya,  Nabi saja tidak sombong meski dia Nabi, kok saya berani-beraninya klaim sana sini. Hajuuuh hajuuuh (tren baru ngomong aduh). Istighfar…

Apalagi dalam 11 tahun pernikahan kami, tanpa dikaruniai anak (sekarang sudah dikaruniai), mau sombong apanya???

Kedua adalah sebuah kepasrahan tingkat tinggi. Mungkin kita sudah sering mendengar “walaa taiasu”, Janganlah kamu berputus asa. Membayangkan kembali ketika Nabi Yunus di dalam perut ikan besar selama 40 hari (saya kurang begitu mendetil ceritanya, tapi yang saya tangkap adalah Nabi Yunus cukup lama dalam perut ikan). Seolah no way out. Saya coba sejajarkan posisi saya ketika menghadapi masalah yang rasanya no way out! Terus kepada siapa lagi kita meminta kalau bukan kepada Allah SWT?

Pernah suatu ketika saya dihadapkan kewajiban bisnis yang sangat tinggi dan jatuh tempo dalam 3 minggu kedepan. Singkat cerita saya lolos setelah berbagai upaya tapi tanpa hasil. Saya pasrah. Pokoknya manut lah mau diapain sama Allah.  Tapi disitulah Pertolongan-Nya itu datang. kewajiban saya lunas tepat waktu!

Dan situasi yang saya alami tak seberapa dibanding kondisi Nabi Yunus di dalam perut ikan. Bila saya yang menggantikan Nabi Yunus saat itu, mungkin saya sudah putus asa.

Yang ketiga adalah The Power of DOA! Ketika sudah tidak ada lagi macam usaha yang bisa dilakukan, apalagi kalau tidak berdoa. Dan DOA adalah komponen terbesar dalam sukses kita. Doa itu menggerakkan bawah sadar. Kadang dalam memecahkan masalah, kita terpacu pada kegiatan nyata saja atau kegiatan sadar saja. Padahal menurut para ahli Psikologi, kesuksesan itu 88% dipengaruhi oleh bawah sadar. Hmmm, intinya lebih banyak dipengaruhi oleh bawah sadar. Dan doa adalah wujud bentuk nyata kegiatan bawah sadar. Hal  ini sering kali saya sampaikan dalam materi #SeriLangitan.

Saya sering ditanya, apa rumus sukses. Saya sebenarnya tidak tahu apa itu rumus sukses. Tapi yang pasti adalah bahwa doa adalah komponen terbesar pendukung sebuah kesuksesan. And life, actually is simple, Tetap rendah hati, pasrah dalam usaha dan terus berdoa!

 

 

Leave a Reply