Cari Tahu Layak Atau Tidak Bisnismu Dengan Menggunakan 4 Indikator Ini

2011 12 01 Colorful - BukittinggiBisnis harus bisa diukur kelayakannya. Bisnis tentu menghasilkan angka-angka di atas kertas juga saldo-saldo di dalam rekening. Semuanya itu harus bisa diukur dan dihitung kelayakannya. Untuk mencari tahu layak atau tidaknya bisnis Anda, ada 4 indikator yang bisa digunakan.

Profit Margin | adalah prosentase dari laba berbanding dengan omzet. Makin besar, tentunya makin bagus. Tidak ada standar minimal baku, namun pada umumnya berkisar 20%. Ini pun bisa lebih, dan juga bisa kurang.  Intinya makin besar prosentasenya, makin bagus!

  • A .Omzet per bulan = 60jt
  • B. Biaya Bahan Baku = 30jt
  • C. Biaya Adum (Administrasi dan umum) = 12jt
  • D. Laba per bulan –> (A-B-C) = 18jt
  • E. Profit Margin = 18jt : 60jt x 100% = 30%

Apakah profit hanya 5% terus proyek dianggap tidak layak? Belum tentu juga sih, karena ada indikator lainnya yang bisa digunakan.

Return On Investment (ROI) | tingkat pengembalian atas investasi. Bahasa gampangnya adalah berapa modal yang Anda tanamkan dalam bisnis dan menghasilkan berapa uang dalam bentuk prosentase.

Misal untuk membuat Kambing Bakar Zam-Zam dibutuhkan MODAL INVESTASI 350jt. Omzet per bulan 60jt

  • A .Omzet per bulan = 60jt
  • B. Biaya Bahan Baku = 30jt
  • C. Biaya Adum (Administrasi dan umum) = 12jt
  • D. Laba per bulan –> (A-B-C) = 18jt
  • E. Profit Margin = 18jt : 60jt x 100% = 30%
  • Maka ROI adalah (D : Modal Investasi x 100%) = 18jt : 350jt x 100% = 5,14% / bulan. Bila disetahunkan menjadi 61,7%

Untuk menyatakan layak atau tidak bisnis ini maka musti dibandingkan bila MODAL INVESTASI ditanam atau diinvestasikan ke jenis investasi lainnya. Misal dideposito (5%-8%), dibandingkan dengan inflasi (6%), suku bunga kredit (10%-15%), inflasi emas (20%).

Break Even Point (BEP) | biasa disebut titik impas. Banyak pengusaha salah arti dari apa itu BEP. BEP adalah dimana seluruh biaya tercover dari omzet sehingga profitnya NOL. Profit NOL ini adalah TITIK IMPAS. Bahasa Jawanya BAK BUK.

Misal dengan contoh kasus di atas, maka titik impasnya adalah

  • A .Omzet per bulan = 24jt
  • B. Biaya Bahan Baku = 12jt
  • C. Biaya Adum (Administrasi dan umum) = 12jt
  • D. Laba per bulan –> (A-B-C) = 0jt

Titik impas juga bisa diartikan “angka aman”. Maka untuk mengamankan biaya adum (cenderung biayanya tetap meskipun tidak jualan), maka omzet dikurangi biaya bahan baku harus sama dengan biaya adum. Bila Anda sudah bisa mengejar “angka aman” maka penjualan berikutnya adalah MURNI PROFIT (setelah dikurangi biaya langsung/biaya bahan baku).

Payback Period | artinya kapan MODAL INVESTASI itu bisa kembali. Kita gunakan contoh yang sama dengan di atas.

  • A .Omzet per bulan = 60jt
  • B. Biaya Bahan Baku = 30jt
  • C. Biaya Adum (Administrasi dan umum) = 12jt
  • D. Laba per bulan –> (A-B-C) = 18jt
  • PayBack Period = 350jt : 18jt = 19,4 bulan

Bila kita melihat contoh, maka Payback Periodnya 19,4 bulan (orang keuangan biasa membulatkan menjadi 20 bulan). Makin cepat makin baik tentunya. Berarti setelah bulan ke 20 bisa disebut bisnis berjalan tanpa modal. Karena modalnya sudah kembali bukan?

Nah demikian indikator kelayakan bisnis yang umum digunakan. Untuk proyek atau bisnis berjangka panjang (misal jalan tol) ada beberapa indikator lainnya untuk menilai kelayakan bisnisnya. Contohnya IRR (Internal Rate Ratio), Future Value, dll. Tapi 4 indikator di atas sudah cukup mewakili indikator bahwasannya proyek layak atau tidak.

Oh ya, di dunia keuangan dikenal yang namanya “ceteris paribus” dimana kondisi perubahan diabaikan. Kenapa? Karena bisnis itu uncertainty alias tidak tetap situasionalnya. Tapi untuk menghitung kelayakan, semuanya harus dianggat certainty alias ceteris paribus. Jangan baca 5 Metode Ini Bikin Studi Kelayakan Bisnismu Makin Komplit.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *