Amerika mengalami gejolak ekonomi. Bailout Plan (BLBI versi Amerika) ternyata juga gagal mengembalikan kepercayaan perekonomian Amerika. Hasilnya bursa saham dunia anjlok. Tak terkecuali Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sampai dengan hari ini, 9 Oktober 2008, masih suspend. Tiba-tiba banyak orang miskin akibat penurunan IHSG sampai dengan 140 poin.
Imbas terhadap BI Rate / SBI adalah peningkatan menjadi 9,50%. Padahal Bank Central negara lain justru menurunkan suku bunganya. Kata pakar bursa saham di Indonesia, ini karena Indonesia bergantung dari impor. Jika SBI tidak naik, maka harga-harga akan mahal dan terjadi inflasi karena mahalnya dollar. Pilihan yang pahit! Pertanyaan saya adalah tidak adakah cara lain? Jawabnya sistem perekonomiannya yang bobrok. Duh!
Naiknya SBI tentu saja meningkatkan suku bunga kredit. Untuk suku bunga KPR saat ini berada di kisaran 14,75% sampai dengan 17%. Suku bunga KPR Bank BTN tepat berada di 14,75% sedangkan Bank Niaga sudah menembus 16,5%. Akibatnya perbankan Indonesia tidak berkecenderungan menjual produk pembiayaan namun menjual produk funding, yang suku bunganya lebih menarik.
Apa imbasnya untuk dunia properti?
Jelas! Industri sektor riil akan tertekan dengan kenaikan SBI ini. Khususnya dunia properti yang sudah dihajar dengan kenaikan BBM, ditambah dengan kenaikan harga material, ditambah dengan suku bunga KPR yang menjadi tidak menarik di mata konsumen, ditambah dengan kecenderungan stop lending KPR oleh perbankan. Ibarat bertinju, sudah kena jab, masih kena upper cut. Syukur-syukur masih bisa bertahan dengan double cover, kalau tidak, TKO di ronde-ronde awal.
Sekedar info yang baru saja saya baca dari detikfinance, bahwa harga semen cenderung meningkat dan para kontraktor mengancam untuk putus kontrak. Duh!
Sedih memang. Di saat properti – menurut saya – akan bangkit lagi setelah jab dari BBM yang cukup membuat berdarah-darah. Ternyata dihadapkan dengan suku bunga tinggi dan masih dihadapkan dengan harga material yang cenderung meningkat terus. Padahal minyak malah turun!
Kembali lagi ke imbas terhadap properti Indonesia. Kenaikan SBI akan menekan industri properti karena suku bunga kredit konstruksi pasti akan mengikuti. Kenaikan suku bunga ini tentunya akan menekan margin keuntungan pelaku industri properti yang memang sudah menipis sejak upper cut dari kenaikan material akibat jab dari BBM.
Pasar properti juga akan turun karena suku bunga KPR yang berkisar 14,75% s.d. 17% (bisa menembus di atas 17%) menjadi tidak menarik di mata calon konsumen karena tingginya cicilan. Bahkan bagi dunia perbankan, hal ini juga tidak menguntungkan karena setiap kenaikan suku bunga akan meningkatkan potensi non performing loan.
Bagaimana dengan suku bunga deposito? Otomatis akan naik. Nah, kenaikan ini juga akan menekan industri properti. Karena konsumen atau investor properti melihat suku bunga deposito lebih menarik. Artinya orang yang pegang uang lebih baik uangnya ditaruh di bank yang bunganya tinggi daripada di properti. Atau orang yang ingin beli rumah saat ini, bisa berbelok arah melihat deposito berbunga tinggi.
Pelaku industri properti akan cenderung wait and see, melihat perekonomian saat ini. Industri properti dalam arti kata membeli, membangun dan menjual kembali. Proses membangun dan menjual kembali saat ini tidak menguntungkan dan cenderung stagnan. Di sinilah judul wait and see.
Bagaimana dengan proses membeli? Membeli barang mentah alias tanah kosong, justru ada kemungkinan bergairah. Karena banyak orang membutuhkan hard cash. Hard cash bisa didapat dari menjual aset-aset yang salah satunya adalah tanah. Pebisnis properti yang sudah berpengalaman, sungguh sadar bahwa properti bukan bisnis yang cepat, maka meletakan uang dalam bentuk tanah, bisa dilakukan saat ini dan memperolehnya di tahun-tahun kemudian. Di sinilah celahnya…
Kalau Anda bagaimana? Mari kita berbagi…
Mas Aryok, selain lihat sisi imbasnya, apa nggak ada peluang bisnis yg ditimbulkan dari krisis ini. Apa ya yg tiba2 jadi sangat dibutuhkan akibat krisis ini?
@ irfan
dimana ada krisis pasti ada peluang. kata temen saya, “ada gula, ada semut” yang dirtikan ada peluang (gula) pasti ada semut (krisis). dibolak-balik begitu. contoh kasus di Timtim, supermarket atau swalayan dapat mengeruk untung besar karena supply < demand. tetapi kira2 apa ya yang jadi peluang dari krisis ini?
kl modal kita besar, kita bisa bermain long term di bursa. beberapa pengamat ekonomi mengatakan demikian. berharap bursa akan rebound dan kita sebagai investor memperoleh capital gain. tapi apa iya selalu begitu?
dalam tulisan saya, saya mencoba menyentil yakni celah dalam dunia properti adalah membeli aset-aset. harapannya aset akan dijual murah karena banyak orang yang butuh duit akibat jatuh miskin mendadak (kalah di saham; cicilan kredit yang meningkat; dsb). sekali lagi inipun long term. tapi long term dalam dunia properti kan sudah menjadi suatu kewajaran bukan??
kalo ada peluang lain? silahkan menambahkan… matur nuwun mas irfan. batamhousingnya bagus. saya add di blogroll.
Menunda pembangunan di saat harga material bahan bangunan naik, adalah keputusan yang amat sangat tidak tepat . Seperti kita ketahui harga bahan bangunan tidak akan pernah turun, maka menunda pembangunan yang sudah berjalan hanya akan menambah kerugian baik finansial maupun material .
Sebaiknya pembangunan diteruskan, sampai pada tahap yang masih mampu dibiayai hingga bangunan dapat dipakai,paling tidak hingga atap selesai dipasang dan Instalasi Listrik dan Plumbing dapat berfungsi, dengan pertimbangan pekerjaan finishing dapat ditunda hingga ada tambahan biaya .
@ sarmun
membangun yang tidak boleh ditunda ada 2 kategori :
1. membangun dalam artian yang sudah menjadi kewajiban adalah tidak boleh ditunda.
2. membangun dalam artian untuk mengenerate cash flow, ini juga tidak boleh ditunda.
sepakat bahwa harga material akan meningkat. mengingat membangun yang menjadi kewajiban.
membangun di luar kategori tersebut di atas, lebih baik ditunda. contoh, Anda beli sebidang tanah untuk dijual kembali berikut rumahnya. selama belum ada kepastian dari konsumen, lebih baik ditunda. ini yang saya maksud dengan wait and see
terima kasih mas sarmun, atas koreksinya.
piye ki enake mas..
wis meh akad kredit je….
uang muka wis kebayar…
@ azhar
nek wis tinggal tanda tangan, dioyakne wae mas…
sebelum ada koreksi suku bunga KPR lagi…
pake bank mana to ?
kalo pake bank yang suku bunganya fixed 1 tahun, sikat aja dulu
wah… blog ini menarik lho… coba di share aja di situs social bookmarking ini>>> http://www.lintasberita.com mudah2an bisa membantu naikkan traffic blog ini keep up the good post ok.. btw.. ever thought bout adding lintasberita’s widget?? just look at your live traffic feed?? Nanti akan banyak pengunjung yang datengnya dari lintasberita lho… cek disini aja yah
>>> http://www.lintasberita.com/tools.php
@rizky
tolong dipandu!
om aryok, aku juga rada panik nih. baru semangat2nya cari rumah tiba2 ada ancaman krisis keuangan gini. berharap semua segera membaik aja. kalo enggak, kapan aku punya rumah??? huaaaa……
@tante lia
pake bank syariah aja tante.
tapi liat2 dulu ya bagi hasil ama banknya
bandingkan dengan bank konvensional
tenang aja tante
properti tetep paling bagus kok
kayanya lintas berita promosinya kenceng banget ya…, semua blog pasti diisi comment promosi gitu…
) tpi jadi jelek bro.. kayae… tampilane…, ga fokus sama janis blog lo… jadi bias
@jagoanrouter
iya bro
rasanya gak pas
Mas Aryo,
kita udah plan mau beli property second. Udah ajukan KPR pada saat bunga masih fixed 2 th 12.5% sekitar awal Sept. Seiring berjalannya proses KPR dan libur lebaran dan sekarang KPR sdh disetujui, bunga menjadi 14.75% fixed 1 tahun. Apakah sebaiknya diteruskan? Please advised nya..
Apa pendapat mas Aryo tetang KPR Bijak –> bunga tabungan (75% dari jumlah tabungan)dikompensasi dengan bunga pinjaman dg tingkat bunga yang sama. Apa benar lebih menguntungkan?
Thanks..
@ liana
ambil aja mbak (atau bu ya ?)
nanti kalau ekonomi membaik dan bunga sudah kompetitif, take over kredit ke bank lain.
syukur2 yang bersistem syariah
krn tahan banting terhadap krisis.
tapi ini mengandung biaya ya….
KPR bijak,
prinsipnya sama saja
mana ada bank mau merugi ?
Mas, aku dah DP salah satu rusunami di kawasan jakarta utara, baru DP 1 sih, kira2 dilanjutin gak ya, kata orang Bank BTN nya suku bunga emang belum pasti, ada kemungkinan naik terus atau mungkin turun. Klo aku jadi ambil akad kreditnya baru bulan Februari 2009, masalahnya pada bulan itu bunga KPR pada harga berapa??
Klo aku gak jadi ambil, berarti DP nya gak aku lanjutin lagi.. gimana menurut mas??
Thanks for your advice…
@eve
ambil aja…
langkah BI masih belum ketebak sih. tapi perkiraan saya, bakalan naik lagi.
tapi optimis aja
toh bank BTN biasanya ratenya fluktuatif sesuai kondisi pasar.
semoga membantu
BISNIS PROPERTY DI BALI TETAP MENARIK BAGI INVESTOR
Mengapa….? karena:
1. Bali adalah tujuan wisata
2. Pembangunan Infrastruktur di Bali, terus dibangun
3. Pembangunan jalan ekonomi Jawa Bali Lombok terus berlanjut
4. Property untuk dihuni, secondary marketnya setiap tahun naik
5. Property untuk akomodasi pariwisata selain menguntungkan dan harganya juga terus menaik
6. Property di bali sangat bisa diandalkan sebagai salah satu tempat simpanan uang
7. Secara kualitatif memiliki property di bali sangat prestisius
salam
Dadang Razzak
http://www.theglobali.com
@ Dadang
untuk sales, sebenarnya saya tidak khawatir.
yang lebih saya khawatirkan adalah persetujuan KPR Bank.
untuk Jakarta, Bali, Bandung, Surabaya, saya masih yakin peminatnya masih besar.
Bukan hanya sektor properti, kantong juga dibuat bolong… nice article. http://standarpenilaian.blogspot.com/
@ mv
hehehe…. bisa aja bos